Salah satu ciri khas dalam pernikahan adat Jawa adalah hidangan yang disajikan. Karena pernikahan merupakan acara penting dan sakral, maka biasanya makanan yang disajikan kepada tamu adalah makanan yang memiliki makna.
Dalam pernikahan adat Jawa, hidangan yang disajikan berupa makanan tradisional yang memang keberadaannya sudah ada secara turun- temurun. Tak sekedar jamuan biasa, beberapa makanan tradisional tersebut, memiliki arti dan harapan tersendiri. Bahkan, kehadirannya dianggap wajib dalam sebuah pernikahan.
Berikut tiga makanan dalam pernikahan Jawa dan filosofinya.
1. Sop manten
Hidangan yang satu ini merupakan kuah ayam yang berisi sayuran dan bercita rasa gurih segar. Sop manten biasanya berisi aneka sayur seperti wortel, kentang, kapri, kubis, dan sedikit suwiran ayam.

Kaldunya bening, namun kaya rempah. Umumnya, disajikan sebagai menu utama prasmanan. Sop manten memiliki filosofi yakni sebagai lambang keharmonisan dan kesederhanaan mempelai pengantin. Harapannya perjalanan pernikahan kedua mempelai akan terus harmonis.
2. Wajik
Wajik merupakan makanan tradisional yang bahan utamanya terbuat dari ketan. Umumnya, wajik hadir sebagai hantaran dan suguhan untuk para tamu undangan.

Rasanya manis dan teksturnya lengket. Sejak dulu, keberadaan wajik selalu ada dalam adat pernikahan Jawa. Bahkan, seringkali menjadi bagian dari seserahan yang dibawa pihak mempelai pria kepada mempelai wanita. Wajik sendiri memiliki filosofi yaitu harapan kehidupan yang baik, kerja keras dan kesabaran.
3. Jenang
Selain wajik, makanan tradisional yang manis dan selalu ada dalam pernikahan adat Jawa yaitu jenang.

Rasanya manis dan gurih. Teksturnya padat dan lebih kenyal. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, jenang bukan hanya dimaknai sebagai makanan manis atau camilan saja. Jenang sebagai makanan pernikahan punya filosofi mendalam yaitu sebagai ungkapan rasa syukur, kerja sama, dan semangat hidup, yang akan dilalui pengantin hingga akhir.
Itulah deretan makanan tradisional yang selalu ada dalam pernikahan adat Jawa. Makanan tersebut tak hanya sekedar jamuan yang mengenyangkan perut, melainkan sebuah simbol harapan dan doa bagi pasangan pengantin.