Kota Semarang, sebuah kota dengan ragam budaya dan sejarah panjang yang terukir dibalik hiruk pikuknya. Tahun ini Festival Gebyuran Bustaman kembali digelar. Sebuah tradisi yang sarat makna serta menjadi lambang guyub rukunnya warga lokal melalui pelestarian kearifan lokal.
Tahun 2026 ini, Festival Gebyuran Bustaman diselenggarakan pada tanggal 12- 15 Februari 2026 di Kampung Bustaman, Purwodinatan, Kota Semarang dengan rangkaian acara yang begitu memukau.
Mulai dari Arwah Jama' dan Maulid Nabi, Ziarah Makam Kyai Kertosobo Bustaman, Pentakota Forum dan Kirab Budaya, hingga acara puncaknya pada tanggal 15 Februari 2026, Gebyuran Bustaman.
Untuk diketahui, Festival ini pertama kali dirintis oleh Kyai Bustam pada tahun 1742, berawal dari ritual sederhana yang dilakukan oleh Kyai Bustam dengan menyiram cucunya sebagai simbol pembersihan diri, ritual ini kemudian bertransformasi menjadi perayaan besar tahunan yang melibatkan seluruh masyarakat dan menjadi salah satu festival yang ditunggu- tunggu masyarakat Semarang.
Kami berkesempatan untuk mengikuti acara puncak Gebyuran Bustaman tahun ini yang berkolaborasi dengan Gerobak Hysteria, sebuah komunitas yang menjadi wadah anak muda berbasis kolektivitas untuk berdaya dan bermanfaat bagi masyarakat kota Semarang.
Pada acara pembukaan, dilakukan senam pagi dan berbagai suguhan hiburan untuk masyarakat, seperti tari tradisional anak, tari Jaranan Satrionan yang memukau dan hiburan lainnya. Sebelum acara inti dimulai, peserta dan masyarakat yang mengikuti gebyuran akan dicoret- coret wajahnya dengan warna- warni, sebagai bentuk pengakuan dosa yang telah diperbuat.
Acara inti gebyuran dimulai dengan siraman kepada beberapa anak - anak yang belum baligh, gebyuran dimulai ketika kentongan bergema di Kampung Bustaman, seketika perang air dimulai jangan harap peserta selamat dari guyuran dan lemparan air warna- warni.
Beberapa remaja mengatakan harapan agar acara ini selalu ada di tahun- tahun kedepan. Junjung, koordinator acara Gebyuran Bustaman dari Gerobak Hysteria juga mengatakan hal senada.
"Besar harapan saya dimana event yang unik di Semarang ini bisa lebih terekspos lagi bahkan bisa dianggap sebagai warisan budaya tak benda, semoga tetap lestari, tetap ada terus dan suatu saat walaupun saya semisal tidak di Semarang lagi saya bisa melihat Gebyuran Bustaman," ucap Junjung kepada infokejadiansemarang.com, Minggu (15/2/2026).
Festival budaya yang patut dilestarikan ini menjadi salah satu bentuk nyata, keharmonisan, guyub rukun warga di Semarang, tak hanya ajang pelestarian budaya lokal, Gebyuran Bustaman memiliki potensi menghidupkan geliat ekonomi bagi masyarakat sekitar dengan adanya bazar umkm. Siapa nih yang kemarin ikut gebyuran? Ceritain gimana momen seru kamu di kolom komentar ya lur!