Keberadaan suatu tradisi di Indonesia sudah ada sejak zaman dahulu. Di Jawa Tengah, terdapat beberapa tradisi unik yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat. Salah satu tradisi yang masih dilestarikan hingga kini adalah tradisi Dugderan.
Tradisi Dugderan rutin diselenggarakan oleh warga Semarang sebagai bentuk perayaan untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang biasanya digelar dalam bentuk festival.
Tradisi ini sudah dilaksanakan sejak tahun 1881 M. Konon, pada tahun 1881-1889 (masa Pemerintahan Bupati Semarang yaitu Kanjeng Bupati Raden Mas Tumenggung Arya Purbaningrat), terdapat sebuah tradisi dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, yang dikenal dengan Dugderan.
Tradisi yang sudah digelar sejak masa kolonial ini diadakan untuk menetapkan awal Ramadhan. Nama "Dugderan" berasal dari onomatope suara bedug (dug) di Masjid dan mercon/meriam (der) yang dibunyikan saat tradisi tersebut.
Tujuan tradisi Dugderan ini adalah melebur perbedaan antar warga di Kota Semarang. Dengan menyatukan berbagai etnis dan umat beragama.
Tahun ini, festival pasar rakyat Dugderan digelar mulai 7 - 16 Februari 2026. Acara tahunan ini diramaikan sekitar 254 pedagang/stand di sekitar Alun-alun Masjid Agung Kauman.
Mulai dari stand kuliner, mainan tradisional seperti gerabah masak-masakan, kitiran, wahana permainan seperti bianglala, komedi putar, rumah hantu, kora-kora dan lain sebagainya.
Puncak dari festival Dugderan dilaksanakan sehari menjelang bulan puasa Ramadhan. Dimulai dengan pemukulan bedug dan membunyikan meriam. Kemudian dilakukan arak-arakan Warak Ngendhog (pawai) menuju Masjid Agung Kauman.
Warak ngendhog adalah hewan rekaan yang menjadi simbol akulturasi tiga etnis utama di Semarang: kepala naga (Tionghoa), leher unta (Arab), dan badan kambing (Jawa).
Oleh masyarakat luas, ikon ini diartikan sebagai simbol akulturasi budaya. Sampai saat ini, tradisi Dugderan masih menjadi alat pemersatu antar warga di Kota Semarang. Tradisi ini begitu meriah karena disambut dengan antusias masyarakat Semarang. Mereka dengan gembira turun ke jalan pada saat perayaan berlangsung, untuk ikut serta melaksanakan tradisi kebanggaan Kota Atlas ini.
Tradisi Dugderan dianggap sebagai ritual tradisi turun-temurun terbesar yang oleh masyarakat dan pemerintah Semarang dianggap menjadi ikon Kota. Dugderan menjadi simbol akulturasi budaya, sejarah, dan toleransi antar etnis yang memuat nilai-nilai edukatif.
Yuk lur, ikut ramaikan Dugderan tahun ini dengan menghadiri pasar rakyat Dugderan sembari mengenang masa kecil, siapa nih yang dulu suka beli mainan tradisional di Dugderan??