Pernahkah kalian mendengar makanan bernama Ndas Maling? Mungkin bagi sebagian orang, namanya seakan asing dan aneh. Nyatanya, Kota Semarang punya beragam kuliner yang belum banyak orang tahu, salah satunya “Ndas Maling”.
Ndas Maling merupakan makanan berupa kue tradisional yang berasal dari Kelurahan Kudu, Genuk. Bentuknya bulat, teksturnya sedikit kasar dan kenyal, rasanya manis legit gula aren. Terbuat dari bahan-bahan sederhana seperti tepung beras, kelapa parut, gula aren/jawa, serta garam.
Konon, istilah “Ndas Maling” muncul dari kisah lama warga Kelurahan Kudu, Genuk, Semarang, yang berkaitan erat dengan Makam Keramat Mbah Senari.
Alkisah tempat tersebut dulunya sering didatangi orang yang berniat buruk (pencuri) sebelum beraksi, juga para penggembala kerbau yang kerap berebut tempat untuk bertapa. Ketika warga mengadakan bancaan di bulan Suro (Muharram), yang dilakukan setahun sekali, mereka membawa jajanan dari tepung beras dengan tekstur agak kasar, mirip kepala kerbau gundul atau ndas.
Sehingga, munculah nama “Ndas Maling,” yang disematkan pada makanan tersebut karena banyak pengunjung makamnya yang dikenal sebagai maling.
Kue khas Semarang ini tak sekedar makanan biasa. Sebab Ndas Maling punya filosofi unik di balik kelezatannya. Filosofi Ndas Maling yaitu harapan membuang hal-hal tidak baik (buruk) dalam hidup dan mengingat kebaikan leluhur.
Dulu, Ndas Maling hanya bisa ditemukan satu tahun sekali (saat bulan suro). Tapi kini, keberadaannya bisa ditemukan kapan saja, bahkan kue ini sering hadir di festival jajan pasar dan jadi favorit beberapa kalangan.
Kini, Ndas Maling diciptakan kembali mengikuti trend zaman dengan cara di modifikasi kemasannya agar lebih berkembang sehingga meningkatkan nilai dan rasa. Demi memenuhi kebutuhan pasar, pengemasan kreatif dilakukan agar terlihat lebih menarik dan modern, sehingga diharapkan bisa menjadi ikon kuliner baru di Kota Semarang.
Ndas Maling sebagai salah satu kue tradisional Semarang harus kita lestarikan. Karena hal itu merupakan salah satu aspek penting budaya, sebagai sebuah kearifan lokal.