Kasus dugaan perundungan yang dialami mahasiswi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang terus bergulir.
Pihak keluarga yang tengah memperjuangkan keadilan bagi almarhumah mengalami berbagai kendala dan sandungan. Pengacara keluarga dokter Aulia, Misyal Achmad mengungkapkan adanya intimidasi yang dilakukan sejumlah pihak agar kasus ini tak dibawa ke ranah hukum.
“Banyak, dari mana- mana, saya tak berbicara langsung. Saya tidak bisa buka dulu, kami mesti jaga keamanan mereka (keluarga korban),” jelas Misyal, Jumat (6/9/2024).
Menurut Misyal, intimidasi bahkan terjadi sebelum keluarga Aulia melaporkan dugaan perundungan dan pemerasan ke pihak kepolisian.
“Nah, kalau kita tidak putus mata rantai ini, ya repot. Ya banyak terjadi ditempat- tempat lain, tetapi mungkin, kan mereka tidak berani. Ini kan kita mencari satu cara agar mereka berani mengungkap,” ujar Misyal.
Misyal mengungkap dokter Aulia mengalami perundungan, pemerasan, juga intimidasi dari senior PPDS Anestesi Undip saat menjadi dokter residen di RSUP dr Kariadi Semarang.
Menurut temuan Kementerian Kesehatan, Aulia bahkan harus membayar Rp 20- Rp 40 juta per bulan untuk berbagai keperluan seniornya, dalam kesehariannya pun, Aulia harus mengangkat galon, menyiapkan 80 boks makanan dengan menu berbeda untuk para senior.
Jam kerja mulai dari jam 03.00 WIB hingga pukul 01.30 WIB keesokan hari saat praktek di RSUP dr Kariadi semakin memperparah keadaannya.
“Itu setiap hari, hingga drop,” jelas Misyal.
Misyal mengatakan bahwa jam kerja yang hampir 24 jam ini sudah disampaikan kepada pihak kampus oleh ibu Aulia, bahkan telah disampaikan kepada kepala program studi (Kaprodi) PPDS sejak 2022. Namun sayangnya keluhan ini tak ditanggapi baik hingga kejadian tak diinginkan terjadi.