Candisari merupakan salah satu kecamatan di Semarang yang letaknya di perbukitan. Candisari dikenal dengan pemandangannya yang indah, dengan lanskap yang segar di pagi hari dan suasana city lights yang asik dinikmati pada malam hari.
Namun, apakah Dulur tahu? Di balik keindahannya, dahulu kawasan ini merupakan tempat “pelarian” dari wabah penyakit.
Sejak dulu Semarang dikenal sebagai pusat perdagangan yang terus berkembang. Hal itu tidak terlepas dari posisinya sebagai pintu masuk menuju pedalaman Jawa. Pemerintah kolonial mengembangkan Semarang sebagai salah satu pusat kota kolonial yang mengalami kemajuan di berbagai sektor, khususnya perdagangan.
Namun, Semarang memiliki reputasi yang buruk dalam sektor kesehatan. Banyak korban jiwa direnggut oleh wabah kolera, malaria, dan tifus. Kondisi ini membuat pemerintah kolonial dan para tenaga kesehatan mencari penyebab tingginya angka kematian.
Lengkong Sanggar dalam tulisannya “Masa Silam yang Nyaris Tenggelam di Candibaru” menyebutkan bahwa W. Vogel selaku dokter yang bertugas merasa bertanggung jawab atas kesehatan warga Semarang. Dia berusaha mengumpulkan data korban jiwa pada saat wabah kolera melanda sekitar tahun 1901–1902.
Dokter W. Vogel menganalisis data yang telah dikumpulkan. Namun dari hasil analisisnya, angka kematian di Semarang tetap tinggi meskipun wabah kolera tidak sedang merebak.
Data menunjukkan bahwa banyak warga meninggal karena tifus, disentri, dan terutama malaria. Pada saat itu baru diketahui bahwa malaria disebarkan melalui nyamuk Anopheles yang bersarang dan berkembang biak di genangan rawa. W. Vogel kemudian menyarankan agar warga Semarang tinggal menjauhi daerah rawa.
Mengingat kondisi geografis Semarang pada saat itu didominasi kawasan rawa serta semakin bertambahnya jumlah penduduk, maka satu-satunya tempat yang bisa dipilih adalah kawasan perbukitan di bagian Selatan. Perbukitan tandus yang masih sepi penduduk. Kawasan ini dinilai lebih sehat karena jauh dari tempat berkembang biaknya Anopheles.
Namun, persoalan sumber air yang minim sempat menjadi tantangan utama. Hal ini dikarenakan letaknya yang berada di perbukitan tandus. Pemerintah Kota Semarang kemudian diberi pinjaman dari pemerintah pusat untuk membangun jaringan air keran yang dilaksanakan pada tahun 1911. Sumber airnya dipasok dari mata air Mudal di lereng Gunung Ungaran.
Seiring perkembangan zaman, Candisari pun berubah menjadi kawasan yang semakin padat. Kini, deretan kafe dan kedai berdiri di berbagai sudut kawasan ini, menjadikannya salah satu tempat untuk berkumpul sekaligus menikmati pemandangan city lights Kota Semarang.
Jadi, setiap kali menikmati city lights dari Candisari, kita sebenarnya sedang berdiri di kawasan yang lahir dari perjuangan melawan wabah lebih dari seabad yang lalu. Sejarah yang kini hampir terlupakan.